Diskusi Kanal Aspirasi Warga Buol Bedah Layanan PDAM Motanang, Direktur Tekankan Keterbukaan!
- account_circle Admin Soal Buol
- calendar_month 13 jam yang lalu
- print Cetak

Soalbuol.com – Diskusi publik yang berlangsung di Grup WhatsApp Kanal Aspirasi Warga Buol pada Kamis (23/4/2026) menyoroti kondisi dan kualitas pelayanan air bersih oleh PDAM Motanang.
Diskusi ini dipandu oleh Admin Suleman DJ Latantu sebagai moderator, serta menghadirkan berbagai pandangan dari masyarakat dan pemangku kepentingan, termasuk Direktur PDAM Motanang, Abd. Nasir, S.Pd.I.
Dalam diskusi tersebut peserta menyampaikan apresiasi terhadap upaya PDAM Motanang yang tetap berkomitmen melayani masyarakat di tengah berbagai keterbatasan. Pelayanan air bersih dinilai tetap berjalan meski kantor PDAM kerap terdampak banjir dan masih berstatus pinjam pakai.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh letak struktur tanah kantor yang rendah serta belum adanya kepemilikan penuh atas gedung yang digunakan. Oleh karena itu, peserta diskusi merekomendasikan agar Pemerintah Daerah Kabupaten Buol menghibahkan gedung tersebut kepada PDAM, guna memperkuat legalitas serta mendukung optimalisasi pelayanan.
Menanggapi dinamika diskusi tersebut, Direktur PDAM Motanang, Abd. Nasir, S.Pd.I, menyatakan bahwa keberadaan Grub Kanal Aspirasi Warga Buol merupakan langkah positif dalam mendorong transparansi dan keterbukaan informasi.
“Grup ini sangat baik karena menjadi ruang keterbukaan informasi. Aspirasi masyarakat bisa langsung disampaikan dan didiskusikan bersama. Apalagi di dalam grup juga ada Bupati dan Wakil Bupati, sehingga komunikasi bisa lebih cepat dan terbuka,” ujarnya.
Di sisi lain, masyarakat juga menyampaikan sejumlah kritik dan harapan terhadap peningkatan layanan air bersih, antara lain meminta PDAM lebih maksimal dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, menjaga konsistensi pelayanan, serta merealisasikan janji-janji yang telah disampaikan, termasuk di wilayah Kecamatan Lakea.
Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa keterbatasan pembiayaan masih menjadi kendala utama PDAM. Hingga saat ini, penyertaan modal dari Pemerintah Daerah dinilai masih minim, dengan catatan bantuan pada tahun 2005 sebesar Rp250 juta serta hibah jaringan dan water meter pada periode 2017–2020.
Meski demikian, pendapatan PDAM saat ini disebut mengalami peningkatan hingga sekitar 50 persen dari target, yang cukup membantu pembiayaan operasional, meskipun masih dalam skala prioritas terbatas.
- Penulis: Admin Soal Buol



Saat ini belum ada komentar