Harusnya Musim Kemarau, Tapi Kenapa Masih Sering Hujan ? Ini Penjelasannya !
- account_circle Moh. Asri
- calendar_month Minggu, 22 Jun 2025
- print Cetak

Setelah El Niño 2023, dunia sedang memasuki masa transisi ke kondisi netral atau La Niña ringan. Fase ini membuat pola angin global tidak stabil dan menghambat terbentuknya Monsun Timur.
5. Dampak Perubahan Iklim
Iklim global yang terus berubah membuat pola musim tidak lagi stabil. Musim hujan dan kemarau bisa bergeser, bahkan saling tumpang tindih.
Suhu Laut Masih Hangat, Potensi Hujan Tetap Ada
Selain lemahnya Monsun Timur, suhu laut Indonesia juga menjadi sorotan. Berdasarkan data suhu permukaan laut (SST), wilayah seperti Laut Jawa, Laut Banda, dan Samudra Hindia bagian selatan Indonesia masih menunjukkan suhu di atas normal.
Beberapa penyebabnya antara lain:
1. Posisi matahari yang masih dekat khatulistiwa, menyebabkan pemanasan laut terus berlangsung.
2. Angin lemah tidak mampu mendinginkan laut dan memperlambat proses upwelling atau naiknya air dingin dari dasar laut.
3. Sisa pemanasan dari El Niño 2023 yang masih tertahan di laut.
4. Pengaruh pemanasan global yang menyebabkan suhu laut secara umum lebih tinggi dari normal, bahkan saat musim kemarau.
Musim Kemarau Bisa Makin Pendek
Kondisi ini menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini tidak hanya datang terlambat, tetapi juga berpotensi lebih pendek dari biasanya.
“Kalau kondisi seperti ini berlanjut, musim kemarau bisa molor dan tidak merata. Beberapa wilayah bahkan bisa tetap mengalami hujan di puncak musim kemarau,” tambah pakar iklim dari LIPI.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lokal dan perubahan cuaca mendadak, serta bijak dalam menggunakan air di tengah ketidakpastian musim yang terjadi akibat pengaruh iklim global.
- Penulis: Moh. Asri



Saat ini belum ada komentar