Harusnya Musim Kemarau, Tapi Kenapa Masih Sering Hujan ? Ini Penjelasannya !
- account_circle Moh. Asri
- calendar_month Minggu, 22 Jun 2025
- print Cetak

Soal Buol, Jakarta – Memasuki akhir Juni 2025, sebagian besar wilayah Indonesia belum merasakan dampak signifikan dari musim kemarau. Cuaca masih cenderung lembap dan hujan sesekali turun di berbagai daerah. Hal ini disebabkan oleh lemahnya angin Monsun Timur yang biasanya membawa udara kering dan dingin dari Australia.
Baca Juga : Wabup Buol Dorong Kesadaran Masyarakat Dalam Program KB Melalui Peringatan Harganas 2025
Monsun Timur seharusnya aktif mulai Mei hingga Juni, ditandai dengan hembusan angin dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia. Angin ini terbentuk karena perbedaan tekanan udara saat Australia memasuki musim dingin, tekanan tinggi terbentuk, sementara Indonesia yang lebih hangat mengalami tekanan rendah. Perbedaan ini memicu pergerakan angin yang dikenal sebagai Monsun Timur.
Namun, tahun ini, beberapa faktor menyebabkan sistem angin musiman ini tidak bekerja maksimal.
Baca juga : Tugu Siote Siap Diresmikan, Ikon Baru Desa Lakuan Hadirkan Filosofi Lokal !
“Tekanan udara tinggi di Australia belum cukup kuat karena pendinginan musim dingin belum optimal,” jelas seorang analis klimatologi BMKG, Minggu (22/6).
Lima Faktor Utama Penyebab Kelemahan Monsun Timur
1. Tekanan Tinggi di Australia Belum Maksimal
Suhu udara di Australia belum cukup dingin untuk membentuk tekanan tinggi yang kuat. Akibatnya, dorongan angin ke arah Indonesia juga melemah.
2. Suhu Laut Indonesia Masih Hangat
Laut yang masih hangat menghasilkan tekanan rendah yang dominan di wilayah Indonesia. Hal ini menghambat pergerakan angin dari Australia.
3. Gangguan Atmosfer Global (MJO & Gelombang Kelvin)
Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin menyebabkan peningkatan pembentukan awan dan hujan, yang semakin memperkuat tekanan rendah lokal.
4. Transisi dari El Niño ke Netral/La Niña Ringan
- Penulis: Moh. Asri



Saat ini belum ada komentar