Diduga Disedot Tambang Ilegal, Solar di Buol Langka dan Mahal!
- account_circle Admin Soal Buol
- calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
- print Cetak

Soalbuol.com – Dugaan maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Buol kini memunculkan persoalan baru. Bukan hanya ancaman terhadap lingkungan, tetapi juga diduga mulai mengganggu distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang menjadi kebutuhan utama para sopir truk dan pelaku usaha angkutan.
Sejumlah sopir dump truck mengaku semakin kesulitan memperoleh solar. Kalaupun tersedia, harganya disebut jauh lebih mahal dibanding biasanya. Kondisi ini dinilai menghambat aktivitas distribusi barang dan berdampak langsung pada biaya operasional.
“Sekarang solar sangat susah dicari. Kalau ada, harganya sudah tinggi. Kami yang sopir jadi paling merasakan dampaknya,” ujar seorang sopir yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Di tengah kelangkaan tersebut, muncul dugaan bahwa tingginya kebutuhan BBM untuk mengoperasikan alat berat di sejumlah lokasi tambang ilegal turut memengaruhi ketersediaan solar di lapangan. Dugaan ini berkembang di tengah laporan masyarakat mengenai aktivitas excavator yang beroperasi di beberapa kawasan yang diduga menjadi lokasi PETI.
Sebelumnya, aktivitas tambang ilegal di Desa Bodi, Kecamatan Paleleh Barat, hingga kawasan Sungai Tabong, Kecamatan Tiloan, telah berulang kali menjadi sorotan publik. Puluhan alat berat dilaporkan bekerja di kawasan aliran sungai yang diduga mengandung emas, memunculkan pertanyaan mengenai sumber pasokan BBM yang digunakan.
Apabila benar BBM subsidi mengalir ke aktivitas pertambangan ilegal, maka yang dirugikan bukan hanya negara, tetapi juga masyarakat yang bergantung pada solar untuk mencari nafkah. Sopir angkutan barang, petani, nelayan, hingga pelaku usaha kecil menjadi pihak yang harus menanggung akibat dari distribusi BBM yang diduga tidak tepat sasaran.
- Penulis: Admin Soal Buol



Saat ini belum ada komentar